Skip to main content

Bersama Plepah, Rengkuh Banyu Mahandaru Mengubah Limbah Menjadi Berkah

Pagi itu, laut tampak tenang. Rengkuh Banyu Mahandaru melangkah pelan ke tepi dermaga, lalu menyelipkan kacamata selam di antara rambut yang sedikit basah oleh embun. Ia sudah siap untuk menyelam, sebuah ritual yang selama ini memberinya ketenangan. Namun, di dasar laut yang semestinya dipenuhi warna-warni ikan tropis dan karang yang menari, Rengkuh justru menemukan pemandangan lain: kepingan putih styrofoam mengambang di antara ubur-ubur, plastik kresek tersangkut di karang, dan botol-botol minuman terjepit di pasir.


Rengkuh Banyu Mahandaru bersama Plepah mengolah limbah menjadi berharga. (Sumber: IG Rengkuh Banyu)

“Kayaknya bisa diulik sesuatu untuk menjadi alternatif dari masalah ini,” gumamnya dalam hati. Kalimat sederhana itu, kelak, menjadi awal lahirnya Plepah, sebuah usaha yang mencoba menjawab masalah besar manusia: sampah.


Dari Menyelam ke Menyelamatkan


Rengkuh bukan aktivis lingkungan sejak awal. Ia adalah seorang desainer produk yang terbiasa memikirkan fungsi dan bentuk, bukan soal limbah. Tapi laut yang kotor hari itu mengguncangnya lebih dari sekadar rasa muak. Ia menyadari bahwa sebagian besar sampah yang menutupi laut adalah benda yang ia sendiri pakai setiap hari: wadah makanan sekali pakai, bungkus plastik, dan styrofoam box dari pesan makanan online.


Sampah styrofoam dan plastik yang sudah mencemari tanah dan air. (Sumber: Tempo)

Di Jakarta, tempatnya bekerja kala itu, kebiasaan memesan makan siang lewat aplikasi menjadi rutinitas. Satu porsi ayam geprek bisa datang dengan lima kemasan berbeda; satu untuk nasi, satu untuk ayam, satu untuk sambal, satu untuk lalapan, dan satu lagi untuk sendok plastik. Dulu, itu tampak biasa saja. Tapi setelah menyelam dan menyaksikan sisa-sisa wadah itu menari di bawah laut, Rengkuh tak bisa memandangnya sama lagi.


Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri: mungkinkah sampah bisa diatasi dengan sampah?


Sebuah Pelajaran dari India


 Rengkuh ketika mengadakan perjalanan ke India yang mengubah hidupnya. (Sumber: IG Rengkuh Banyu)


Jawabannya datang tak lama kemudian dari perjalanan ke Jaipur, India, pada 2018. Di kota yang penuh warna dan debu itu, Rengkuh menyaksikan sesuatu yang sederhana, tetapi menampar kesadarannya: tumpukan mangkuk dari daun kering di pasar-pasar tradisional. Mangkuk itu bukanlah produk mewah, tapi hasil kebiasaan turun-temurun masyarakat India yang menggunakan daun tanaman endemik untuk wadah makanan.


Rengkuh mengenang bahwa di sepanjang jalan, ia melihat banyak tumpukan sampah, tapi semuanya organik dan bisa dikompos. Di sana, Rengkuh melihat tempat-tempat dekomposter berdiri di pinggir jalan, sebuah pemandangan yang  jarang sekali ditemuinya di Indonesia.


Wadah dari pelepah pinang yang turut menyelamatkan lingkungan. (Sumber: IG plepah_id)


Ia teringat pada masa kecilnya di Jawa, ketika nasi bungkus disajikan di atas daun pisang dan kue tradisional dibalut daun jati. Dulu, tak ada yang salah dengan itu. Tapi seiring modernitas, plastik dianggap lebih praktis, dan daun menjadi “ketinggalan zaman”.


Bedanya, masyarakat India masih mempertahankan kebiasaan lama itu. Mereka mungkin hidup sederhana, tapi meninggalkan jejak yang jauh lebih ringan bagi bumi. Rengkuh jadi berpikir, kenapa kita di Indonesia, negara yang begitu kaya daun dan pelepah, justru menimbun plastik setiap hari?


Dari Pelepah yang Terbuang


Pencarian Rengkuh berlanjut. Ia mulai melihat potensi bahan-bahan alami di sekitar hingga matanya tertuju pada sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai: pelepah pohon pinang.


Di banyak daerah di Sumatra, pinang adalah tanaman komoditas. Buahnya dijual, tapi pelepahnya, yaitu bagian panjang yang menopang daun, dibiarkan membusuk di tanah. Dalam sebulan, satu pohon bisa menjatuhkan pelepah dua hingga tiga kali. Rengkuh mengartikan bahwa itu berarti limbah pohon pinang sangat banyak.


Pohon pinang berjuta manfaat, termasuk limbah pelepahnya. (Sumber: IG plepah_id)


Ia mulai bereksperimen. Pelepah-pinang yang keras dicuci, disterilkan, lalu di-steam agar lentur. Dengan mesin press sederhana yang ia rancang sendiri, lembaran pelepah itu dicetak menjadi bentuk wadah makanan. Hasilnya mengejutkan: permukaan alami pelepah pinang memiliki corak unik seperti serat kayu, kuat, dan yang paling penting, ramah lingkungan.


Rengkuh mengungkapkan bahwa proses pembuatannya, pertama disterilkan, lalu dipres dan dicetak dengan mesin khusus. Dari 1 lembar pelepah pinang mampu mencetak 3-4 piring dan apabila dijadikan kontainer seperti piring Hokben bisa menjadi 2-3 biji.


Proses pembuatan wadah dari pelepah di pabrik Plepah. (Sumber: IG plepah_id)


Bisa diolah secara desain dan tidak perlu teknologi yang susah. Dari situ, lahirlah Plepah, produk wadah makanan yang terbuat sepenuhnya dari limbah pelepah pinang dan tanpa tambahan bahan kimia.


Wadah yang Hidup dan Mati dengan Baik


Wadah Plepah tampak sederhana. Tapi di balik bentuknya yang minimalis, tersimpan filosofi: bagaimana sesuatu yang pernah hidup bisa kembali ke bumi dengan cara yang baik.


Wadah dari pelepah pinang yang tak kalah menarik dan estetik. (Sumber: IG plepah_id)


Plepah tahan panas, bisa dimasukkan ke microwave, bahkan bisa dipakai ulang dua sampai tiga kali. Namun, Rengkuh tak menyarankan pemakaian berulang berlebihan. Konsepnya tetap sekali pakai, tapi bukan berarti jadi masalah bagi alam. Setelah digunakan, Plepah bisa langsung dikompos. Dalam 60 hari, wadah itu akan terurai sepenuhnya menjadi tanah.


Bila dibandingkan dengan styrofoam, perbedaannya seperti siang dan malam. Styrofoam membutuhkan ratusan tahun untuk terurai dan dalam prosesnya akan mencemari air, tanah, bahkan udara. Sebaliknya, Plepah akan kembali menjadi bagian dari ekosistem yang menyuburkan.


Plepah mendapat kunjungan dari menteri sains, teknologi, dan inovasi Jepang. (Sumber: IG plepah_id)


Namun, membuat produk ramah lingkungan bukan hanya tentang teknologi. Ada tantangan sosial dan ekonomi yang lebih besar: harga. “Styrofoam bisa seribu rupiah, Plepah masih di kisaran dua ribu lima ratus sampai tiga ribu rupiah,” kata Rengkuh.


Di negara di mana harga sering kali menjadi penentu utama pilihan, tantangan ini bukan perkara kecil. Tapi Rengkuh percaya, perubahan besar sering dimulai dari pilihan kecil.


Pabrik di Tengah Desa


Untuk mewujudkan mimpinya, Rengkuh mendirikan pabrik pertama Plepah di Sumatra Selatan dan Jambi, dekat dengan sumber bahan baku. Keputusan itu bukan semata soal efisiensi logistik. Ia ingin menekan jejak karbon sekaligus membuka lapangan kerja di pedesaan.

Rengkuh menyatakan bahwa daripada pelepah dibuang, sekarang bisa jadi sumber penghasilan. Para petani pinang kini tidak hanya menjual buahnya, tapi juga mengumpulkan pelepah yang jatuh. Salah satunya, Pak Asnawi dari Teluk Kulbi, Jambi. Setiap bulan, ia mengumpulkan tumpukan pelepah kering di halaman rumahnya untuk dikirim ke pabrik. Pak Asnawi mengungkapkan dengan bangga bahwa dulu pelepah pinang hanya dibakar saja, tetapi sekarang bisa jadi uang.


Pak Asnawi, pengumpul pelepah pinang dari Teluk Kulbi, Jambi. (Sumber: IG Rengkuh Banyu Mahandaru)


Produksi Plepah kini mencapai 120 hingga 150 ribu pieces per bulan. Untuk memenuhi permintaan di wilayah barat Indonesia, Rengkuh membuka pabrik ketiga di Cibinong, Bogor. Dari sana, produk Plepah mengalir ke berbagai kota, seperti Jakarta, Bali, dan bahkan menembus pasar ekspor ke Jerman dan Australia.


Sampah, Desain, dan Harapan


Sebagai desainer, Rengkuh memandang masalah lingkungan dengan cara yang berbeda. Ia percaya, desain bukan sekadar soal estetika, tapi juga solusi. Rengkuh mengatakan bahwa desain yang baik harus menyelesaikan masalah. Dalam kasus Plepah, masalah itu adalah tumpukan sampah plastik yang setiap tahun menenggelamkan kota-kota di Indonesia.


Setiap kali ia memegang selembar pelepah pinang, Rengkuh merasa seperti sedang menggenggam dua hal sekaligus: masa lalu dan masa depan. Masa lalu, karena bahan itu mengingatkannya pada tradisi makan dengan daun jati. Masa depan, karena di tangan yang tepat, limbah bisa menjadi solusi.


Pelepah yang terkumpul dari kebun diolah menjadi wadah ramah lingkungan. (Sumber: IG Rengkuh Banyu)


Kini, Plepah bukan sekadar produk, tapi juga gerakan kecil yang mengajak orang untuk berpikir ulang tentang hubungan mereka dengan alam. Mungkin solusi atas krisis lingkungan tidak selalu datang dari laboratorium canggih atau teknologi luar negeri, tetapi kadang ia tumbuh dari kebun sendiri.


Dari Limbah ke Energi


Plepah mewakili Indonesia di Hannover Messe pada 2023. (Sumber: Katadata)


Rengkuh tak berhenti di pelepah pinang. Ia dan timnya kini tengah meneliti kemungkinan lain: mengubah limbah pertanian menjadi bio-massa sebagai sumber energi alternatif pengganti batu bara. Ia dengan bersemangat mengatakan bahwa Indonesia adalah negara agraris. Kita punya bahan melimpah yang belum dimanfaatkan. Bagi Rengkuh, ini bukan sekadar soal bisnis, tapi tentang tanggung jawab moral generasi muda.


Banyak masalah bisa diselesaikan dengan limbah pertanian. Kita hanya perlu mengubah cara pandang bahwa limbah bukan akhir dari sesuatu, tapi awal dari yang baru.


Penghargaan dan Harapan


Perjuangan itu membuahkan hasil. Pada tahun 2023, Rengkuh dan Plepah meraih SATU Indonesia Awards untuk kategori Pejuang Lingkungan. Penghargaan itu memberinya suntikan dana riset dan yang lebih penting lagi jaringan baru untuk mengembangkan ide-idenya.


Rengkuh meraih SATU Indonesia Awards 2023 di bidang lingkungan (Sumber: IG Rengkuh Banyu)


Bertemu para juri dan pejuang lain membuat ia sadar bahwa banyak yang juga berjuang dengan caranya sendiri. Dari penghargaan itu, Plepah semakin dikenal luas. Tapi bagi Rengkuh, hal yang paling berharga adalah kesadaran bahwa usahanya bukan hanya soal mengolah pelepah, melainkan mengubah cara pandang manusia terhadap sampah.


Plepah juga berhasil go global di mana Plepah diikutsertakan pula pada pameran teknologi industri tingkat dunia Hannover Messe 2023 di Jerman mewakili Indonesia sebagai startup yang mempresentasikan inovasi dan potensi investasi pada sektor ramah lingkungan.


Mengembalikan Keseimbangan


Kini, setiap kali Rengkuh kembali menyelam, laut terasa sedikit lebih bersih, atau setidaknya, ia tahu bahwa ia telah melakukan bagiannya. Di tangannya, pelepah-pinang yang dulu terbuang kini menjelma menjadi simbol harapan. Sebuah pengingat bahwa bumi tidak butuh diselamatkan oleh pahlawan, melainkan oleh manusia-manusia yang mau berubah pelan-pelan, tapi pasti.


Limbah sampah bisa menjadi berkah jika kreatif dan inovatif dalam mengolah. (Sumber: IG plepah_id)


Rengkuh menyatakan bahwa ia cuma ingin jika anak-anak nanti menyelam, mereka tidak lagi melihat laut penuh sampah seperti yang ia lihat dulu.


Sederhana, tapi menggetarkan. Bersama pelepah yang jatuh di tanah, ia menanam kembali harapan bahwa sampah bukan akhir dari kehidupan, melainkan awal dari peradaban yang lebih bijak terhadap bumi.

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Kisah Yudi Efrinaldi Bersama Es Gak Beres Memberdayakan Ekonomi Masyarakat

Di tengah hiruk pikuk jalanan Kisaran, Asahan, Sumatra Utara, seringkali kita hanya melihat sebuah gerobak sebagai titik singgah sesaat atau tempat kita menukar lembaran rupiah dengan pelepas dahaga. Tapi bagi Yudi Efrinaldi, gerobak adalah garis start . Sebuah rombong kecil tempat dia menyambut nasib baiknya, yang ironisnya, bermula dari sebuah label: Gak Beres. Dari gerobak sederhana, Es Gak Beres telah mengubah jalan hidup Yudi. (Sumber: Viva) Gak Beres bukan sembarang label. Itu adalah pengakuan jujur, atau mungkin juga makian, yang kini bertengger gagah sebagai merek dagang dengan hampir 500 cabang se-Indonesia. Ini adalah kisah tentang the power of kepepet . Kisah tentang seorang mantan pegawai honorer yang dulu dipaksa oleh keadaan finansial, sebuah desakan yang kerap disebut tekanan ekonomi untuk beranjak dari zona nyaman, menjemput rezeki di bawah terik matahari, dan membuktikan bahwa kegagalan hanyalah bumbu dalam resep kesuksesan. Gerobak Pertama dan Sebuah Celetukan Yud...

Langkah Kevin Gani Bersama Garda Pangan; Menyelamatkan Makanan Sisa yang Menghidupkan Asa

Siang itu di Surabaya, aroma nasi hangat tengah bercampur dengan udara lembap yang keluar dari dapur-dapur restoran. Di balik kesibukan para juru masak yang menyiapkan hidangan untuk tamu, ada tumpukan piring yang belum sempat tersentuh, roti yang mulai mengeras, dan lauk yang sudah kehilangan segarnya. Sebagian besar akan berakhir di tempat sampah bersama sisa-sisa makanan lain menunggu nasib yang sama. Kevin Gani bersama Garda Pangan menyelamatkan makanan demi kehidupan. (Sumber: tempo.co) Namun bagi Kevin Gani, pemandangan seperti itu bukan hal yang bisa dibiarkan. Ia mengungkapkan bahwa sampah makanan itu bukan sekadar sisa, tetapi potret ketimpangan. Pria yang berkantor di Yayasan Garda Pangan, Surabaya Barat itu merasa miris. Dari caranya menatap makanan-makanan itu memperlihatkan satu hal: empati yang begitu dalam. Kevin adalah Ketua dan Koordinator Program Relawan Garda Pangan, sebuah yayasan yang sejak 2017 mengubah cara orang memandang makanan berlebih. Ia dan timnya mengum...

Langkah Elmi Sumarni Ismau Bersama GARAMIN Menggerakkan Dunia yang Lebih Inklusif

Pagi itu, angin laut Kupang bertiup lembut membawa aroma asin bercampur debu jalanan. Di sebuah ruangan sederhana yang dindingnya penuh coretan spidol warna-warni, Elmi Sumarni Ismau menatap layar laptopnya dengan serius. Di sampingnya, sebuah kursi roda terparkir dalam keheningan yang menjadi saksi dari perjalanan panjang dan telah membentuk dirinya menjadi sosok yang tangguh sekaligus lembut hati. Elmi Sumarni Ismau sosok difabel asal Kupang, NTT pendiri GARAMIN NTT. (Sumber: idntimes) Elmi, bukan hanya seorang perempuan penyandang disabilitas. Ia juga adalah penggerak, jembatan sekaligus suara bagi mereka, para difabel di Nusa Tenggara Timur, yang sering kali tak terdengar di tengah riuhnya pembangunan. Dari ruang kecil di Kupang itulah, Elmi bersama kawan-kawannya membangun sebuah gerakan bernama GARAMIN NTT sebuah Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas untuk Inklusi. Sebuah inisiatif yang lahir dari keyakinan sederhana tetapi kuat bahwa setiap manusia, dengan segala keter...