Pagi itu, laut tampak tenang. Rengkuh Banyu Mahandaru melangkah pelan ke tepi dermaga, lalu menyelipkan kacamata selam di antara rambut yang sedikit basah oleh embun. Ia sudah siap untuk menyelam, sebuah ritual yang selama ini memberinya ketenangan. Namun, di dasar laut yang semestinya dipenuhi warna-warni ikan tropis dan karang yang menari, Rengkuh justru menemukan pemandangan lain: kepingan putih styrofoam mengambang di antara ubur-ubur, plastik kresek tersangkut di karang, dan botol-botol minuman terjepit di pasir. Rengkuh Banyu Mahandaru bersama Plepah mengolah limbah menjadi berharga. (Sumber: IG Rengkuh Banyu) “Kayaknya bisa diulik sesuatu untuk menjadi alternatif dari masalah ini,” gumamnya dalam hati. Kalimat sederhana itu, kelak, menjadi awal lahirnya Plepah, sebuah usaha yang mencoba menjawab masalah besar manusia: sampah. Dari Menyelam ke Menyelamatkan Rengkuh bukan aktivis lingkungan sejak awal. Ia adalah seorang desainer produk yang terbiasa memikirkan fungsi dan be...
Di tengah hiruk pikuk jalanan Kisaran, Asahan, Sumatra Utara, seringkali kita hanya melihat sebuah gerobak sebagai titik singgah sesaat atau tempat kita menukar lembaran rupiah dengan pelepas dahaga. Tapi bagi Yudi Efrinaldi, gerobak adalah garis start . Sebuah rombong kecil tempat dia menyambut nasib baiknya, yang ironisnya, bermula dari sebuah label: Gak Beres. Dari gerobak sederhana, Es Gak Beres telah mengubah jalan hidup Yudi. (Sumber: Viva) Gak Beres bukan sembarang label. Itu adalah pengakuan jujur, atau mungkin juga makian, yang kini bertengger gagah sebagai merek dagang dengan hampir 500 cabang se-Indonesia. Ini adalah kisah tentang the power of kepepet . Kisah tentang seorang mantan pegawai honorer yang dulu dipaksa oleh keadaan finansial, sebuah desakan yang kerap disebut tekanan ekonomi untuk beranjak dari zona nyaman, menjemput rezeki di bawah terik matahari, dan membuktikan bahwa kegagalan hanyalah bumbu dalam resep kesuksesan. Gerobak Pertama dan Sebuah Celetukan Yud...