Siang itu di Surabaya, aroma nasi hangat tengah bercampur dengan udara lembap yang keluar dari dapur-dapur restoran. Di balik kesibukan para juru masak yang menyiapkan hidangan untuk tamu, ada tumpukan piring yang belum sempat tersentuh, roti yang mulai mengeras, dan lauk yang sudah kehilangan segarnya. Sebagian besar akan berakhir di tempat sampah bersama sisa-sisa makanan lain menunggu nasib yang sama.
![]() |
Kevin Gani bersama Garda Pangan menyelamatkan makanan demi kehidupan. (Sumber: tempo.co) |
Kevin adalah Ketua dan Koordinator Program Relawan Garda
Pangan, sebuah yayasan yang sejak 2017 mengubah cara orang memandang makanan
berlebih. Ia dan timnya mengumpulkan makanan surplus dari hotel, restoran,
katering, hingga petani, lalu menyalurkannya kepada masyarakat prasejahtera.
Bagi Kevin, makanan yang tampak sepele itu; roti yang keras atau retak, nasi
yang dingin, lauk yang tak laku dijual, bisa menjadi nyawa bagi orang lain.
Kevin menyatakan bahwa jika kita membuang makanan seharga lima ribu rupiah, itu berarti kita juga membuang keringat petani, air, pupuk, energi, dan waktu yang dipakai untuk menanamnya, dan ketika makanan itu menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), ia berubah jadi gas metana yang mencemari udara.
Dari Piring Rumahan ke Gerakan Kota
Keterlibatan Kevin dalam isu pangan bermula dari hal yang sederhana. Ia tumbuh dalam keluarga yang kerap memesan makanan berlebih saat berkumpul. Sisa-sisa itu biasanya berakhir di tempat sampah. Suatu hari, ketika ia melihat seorang nenek di Surabaya hanya memiliki gayung untuk menampung makanan, ia merasa bersalah. Dari rasa bersalah itulah, ia menumbuhkan tekad yang baru.
Sejak 2017, Kevin bergabung sebagai relawan Garda Pangan, komunitas yang didirikan oleh Dedhy Trunoyudho, pengusaha katering yang resah karena setiap minggu harus membuang makanan dalam jumlah besar. Bersama sang istri, Indah Audivita, dan rekannya Eva Bachtiar, mereka membentuk gerakan sosial untuk menyalurkan makanan layak konsumsi kepada yang membutuhkan.
Di awal, aktivitas mereka sederhana. Beberapa relawan mengumpulkan makanan sisa pesta, menata ulang di dapur komunitas, lalu mengantarkannya ke panti asuhan, panti jompo, dan permukiman padat di pinggiran kota. Tidak ada spanduk besar, tidak ada sorotan media. Yang ada hanya semangat kecil yang menolak menyaksikan makanan baik itu terbuang sia-sia.
![]() | ||
| Bersama tim relawan mengolah makanan agar layak dikonsumsi. (Sumber: greeners.co) |
Dari sana, Kevin belajar banyak. Tentang rantai distribusi yang timpang, tentang sisa makanan yang menggunung di tempat pembuangan akhir, dan tentang wajah-wajah orang yang jarang makan nasi dalam sehari penuh. Ia menyadari bahwa masalah pangan bukan cuma soal jumlah, tetapi juga akses.
Sampah Makanan, Paradoks Negeri Subur
Indonesia dikenal sebagai negeri agraris yang subur, tetapi data menunjukkan hal yang paradoks. Kajian Bappenas mencatat, sepanjang tahun 2000 hingga 2019, jumlah sampah makanan di Indonesia mencapai 23 hingga 48 juta ton per tahun. Angka itu setara dengan 115-184 kilogram per orang setiap tahun.
Namun di sisi yang lain, Global Hunger Index 2021 menempatkan Indonesia di peringkat ketiga di Asia Tenggara dalam hal tingkat kelaparan dengan skor 18 atau kategori moderat. Artinya, di tengah melimpahnya bahan pangan, masih banyak keluarga yang tidur dalam keadaan lapar.
Kevin memandang hal ini ironis. Di satu sisi, kita membuang makanan setiap hari, tetapi di sisi lain, ada mereka yang antre hanya untuk sepiring nasi bungkus.
Dari perspektif lingkungan, persoalan ini juga lebih serius. Sekitar 42 persen komposisi sampah di Indonesia adalah sisa makanan. Ketika membusuk di tempat pembuangan akhir, sisa organik ini menghasilkan gas metana atau gas rumah kaca yang 23 kali lebih berbahaya dari karbon dioksida.
Dalam jangka panjang, metana mempercepat pemanasan global dan berkontribusi terhadap kebakaran atau runtuhnya TPA. Kita pasti masih mengingat peristiwa meledaknya TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat pada tahun 2005 yang telah menenggelamkan dua desa dan ratusan jiwa meninggal dunia.
Oleh karena itulah, Kevin menyebut gerakan penyelamatan pangan bukan semata aksi sosial, tapi juga langkah ekologis. Ia menyatakan bahwa kita bukan hanya menyelamatkan orang dari kelaparan, tapi juga menyelamatkan bumi dari sesaknya sampah makanan.
![]() |
| Garda Pangan menyelamatkan orang dari kelaparan dan menyelamatkan bumi dari sampah makanan. (Sumber: detikcom) |
Membangun Jembatan Antara Dapur dan Laboratorium
Di tangan Kevin, Garda Pangan tidak berhenti menjadi sekadar bank makanan (food bank). Ia membawa gerakan ini ke arah yang lebih ilmiah dengan menggabungkan pendekatan sosial dan teknologi. Salah satunya adalah inovasi biokonversi black soldier fly (BSF) untuk mengubah sisa makanan tak layak konsumsi menjadi pakan ternak.
![]() |
| Kevin bersama Garda Pangan menyelamatkan lingkungan dari limbah makanan. (Sumber: jatimnow.com) |
Larva BSF atau Hermetia illucens dikenal mampu mengurai
limbah organik secara cepat dan efisien. Dalam hitungan hari, sisa makanan bisa
berubah menjadi biomassa yang kaya protein dan lemak. Hasilnya kemudian
dimanfaatkan untuk pakan ayam, ikan, atau bebek. Kevin menjelaskan bahwa daripada
terbuang, limbah itu bisa jadi sumber daya baru.
Teknologi sederhana itu kini dijalankan di pusat pengolahan Garda Pangan. Setiap hari, mereka mengolah sekitar 500-800 kilogram sampah makanan yang berasal dari bisnis kuliner dan rumah tangga. Dengan sistem berlapis, makanan yang masih layak konsumsi disalurkan kepada penerima manfaat, sementara sisanya diolah menjadi pakan atau kompos. Bagi Kevin, sains dan empati tak bisa dipisahkan karena sains memberi kita cara, empati memberi kita alasan.
Makanan yang Mengalir, Harapan yang Menyebar
Sejak berdiri, Garda Pangan telah menyalurkan lebih dari 577 ribu porsi makanan kepada hampir 28 ribu penerima manfaat di Surabaya dan sekitarnya. Relawan mereka yang kini berjumlah lebih dari 1.500 orang berkeliling dari pintu ke pintu untuk membawa boks berisi nasi, lauk, dan sayur.
![]() |
| Kevin dan tim relawan mendidtribusikan makanan ke tangan yang tepat. (Sumber: radioidolasemarang.com) |
Kevin menjelaskan bahwa door-to-door adalah cara memastikan makanan benar-benar sampai ke tangan yang tepat. Di setiap perjalanan, para relawan sering mendapat cerita yang tak mereka duga: anak-anak yang bersorak ketika menerima roti atau ibu rumah tangga yang meneteskan air mata karena bisa menyiapkan makan malam tanpa meminjam uang.
Bagi sebagian orang, kisah-kisah itu mungkin kecil. Tapi bagi Garda Pangan, di sanalah letak maknanya. Kevin menyatakan bahwa mereka tidak sedang menyelamatkan dunia, tetapi kami mencoba membuat satu sudut kecilnya jadi lebih baik.
Kini, Garda Pangan juga menjadi mitra bagi sejumlah bisnis besar, seperti Hotel Sheraton, Nestlé, dan Sayurbox. Mereka bekerja sama untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya pengelolaan makanan berkelanjutan.
Menyatukan Gerak Menjadi Pejuang Pangan Berkelanjutan
Kerja keras itu mendapat pengakuan secara luas. Pada 29 Oktober 2024, Kevin menerima penghargaan SATU Indonesia Awards untuk kategori lingkungan. Bagi Kevin, penghargaan itu bukan puncak, melainkan batu pijakan. Kevinmengungkapkan bahwa penghargaan ini bukan soal saya. Ini tentang ribuan relawan yang setiap hari memilih turun ke jalan dan tentang para ibu yang masih menanak nasi dari sisa kemarin.
SATU Indonesia Awards yang digagas oleh PT Astra International memang ditujukan untuk menyoroti anak muda yang memberi dampak positif di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, kewirausahaan, serta teknologi, dan Kevin menjadi bagian dari anak muda yang memilih berbuat sesuatu di tengah keputusasaan.
![]() |
| Tim relawan memilah makanan agar sesuai standar layak pangan. (Sumber: nursyamcentre.com) |
Mengubah Cara Pandang Terhadap Makanan
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Kevin adalah
mengubah cara masyarakat memandang makanan berlebih. Bagi banyak orang, sisa
makanan adalah hal wajar, bahkan tidak penting untuk dipikirkan. Kita tumbuh dalam
budaya di mana makanan melimpah dianggap tanda kesejahteraan. Tetapi ketika
yang tersisa jadi sampah, itu sebetulnya tanda ketimpangan.
Untuk itu, Garda Pangan rutin mengadakan kampanye edukatif, terutama di sekolah dan kampus. Mereka memperkenalkan konsep food rescue hierarchy: mulai dari mengurangi sumber sampah makanan, mendistribusikan surplus ke masyarakat, hingga mengolah limbah menjadi kompos atau pakan.
Gerakan ini melahirkan generasi muda yang Kevin sebut food heroes; anak-anak sekolah dan mahasiswa yang kini aktif mengumpulkan makanan berlebih dari kantin, pesta, dan acara komunitas. Mereka belajar bahwa setiap butir nasi punya cerita.
Peran Menjumputi Sisa yang Mengubah Asa
![]() |
| Melalui Garda Pangan, Kevin dan generasi muda menjadi harapan baru penyelamat lingkungan. (Sumber: GenPI.co) |
Kini di usia yang masih muda, Kevin Gani telah menjadi wajah baru gerakan pangan berkelanjutan di Indonesia. Tapi baginya, perjalanan masih panjang. Ia bermimpi suatu hari setiap kota punya sistem food rescue sendiri yang terintegrasi dengan kebijakan pemerintah dan dunia usaha. Tujuan akhirnya bukan agar semua orang bergantung pada bantuan makanan. Namun, tujuannya adalah agar tidak ada lagi makanan yang sia-sia dan tidak ada lagi orang yang lapar.
Menjelang sore, beberapa relawan di gudang kecil Garda Pangan
tampak menimbang makanan sumbangan dari hotel. Di luar, gerobak motor menunggu
untuk mengantar paket-paket itu ke berbagai titik distribusi. Di udara, tercium
aroma lauk yang sudah dingin, tapi masih layak santap. Itu adalah aroma
sederhana dari perjuangan melawan kelaparan dan pemborosan.
Kevin menyaksikan hal itu dengan membayangkan bahwa kalau kita bisa melihat makanan bukan sebagai sisa, tapi sebagai sumber daya, maka mungkin dunia ini akan lebih adil dan bumi ini akan lebih tenang.
Di tangan anak-anak muda inilah, sisa menjadi harapan dan setiap suapan berarti lebih dari sekadar kenyang. Ia bukan hanya menyelamatkan makanan dari tempat sampah, tapi juga menyelamatkan kemanusiaan dari rasa abai dan tak peduli.







Comments
Post a Comment