Skip to main content

Kisah Yudi Efrinaldi Bersama Es Gak Beres Memberdayakan Ekonomi Masyarakat

Di tengah hiruk pikuk jalanan Kisaran, Asahan, Sumatra Utara, seringkali kita hanya melihat sebuah gerobak sebagai titik singgah sesaat atau tempat kita menukar lembaran rupiah dengan pelepas dahaga. Tapi bagi Yudi Efrinaldi, gerobak adalah garis start. Sebuah rombong kecil tempat dia menyambut nasib baiknya, yang ironisnya, bermula dari sebuah label: Gak Beres.


Dari gerobak sederhana, Es Gak Beres telah mengubah jalan hidup Yudi. (Sumber: Viva)


Gak Beres bukan sembarang label. Itu adalah pengakuan jujur, atau mungkin juga makian, yang kini bertengger gagah sebagai merek dagang dengan hampir 500 cabang se-Indonesia.

Ini adalah kisah tentang the power of kepepet. Kisah tentang seorang mantan pegawai honorer yang dulu dipaksa oleh keadaan finansial, sebuah desakan yang kerap disebut tekanan ekonomi untuk beranjak dari zona nyaman, menjemput rezeki di bawah terik matahari, dan membuktikan bahwa kegagalan hanyalah bumbu dalam resep kesuksesan.

Gerobak Pertama dan Sebuah Celetukan

Yudi tinggal di Asahan, sebuah kabupaten yang denyutnya mungkin tak secepat kota metropolitan, tetapi menyimpan semangat juang yang tak kalah keras. Latar belakang Yudi penuh keterbatasan, tetapi itu menjadi bahan bakar terbaiknya.

"Mau sampai kapan begini-begini saja? Gaji honorer itu cukupnya ya cuma untuk lewat," kalimat itu sering berbisik di telinganya.

Pada tahun 2019, bulan suci Ramadan tiba. Ini adalah musim panen bagi para pedagang takjil. Yudi, setelah sempat mencicipi pahitnya kegagalan saat berjualan bubur ayam dan mencoba peruntungan dengan pisang krispi online (KIJEK), ia memutuskan untuk mencoba lagi dan kali ini dengan cairan dingin.

Ia mendirikan gerobak sederhananya di pinggir jalan. Di dalamnya, ada aneka jus buah yang ia racik dan ia masukkan ke dalam tong-tong besar sebagaimana cara berjualan yang sangat umum di daerahnya. Operasi penjualan dimulai pukul 15.00 hingga waktu berbuka, yaitu sekitar pukul 18.00. Tiga jam krusial menjelang berbuka puasa.

Kini Es Gak Beres membuka jalan ekonomi banyak orang. (Sumber: Republika)


Yudi tidak hanya menunggu, ia membuat strategi online bertemu offline. Ia mempromosikannya di WhatsApp atau di grup-grup sosial media. Ternyata, responsnya luar biasa. Dagangannya ludes dan sering kali sebelum waktu magrib tiba.

Sampai suatu sore yang ramai, di tengah antrean pembeli yang panjang, sebuah celetukan meluncur dari bibir seorang pelanggan yang tak kebagian. Celetukan yang tanpa disadari oleh si pengucap adalah penanda nasib baik Yudi. "Wah, memang ini Es Gak Beres!"

Kata-kata itu mendarat di telinga Yudi. Ia bisa saja menganggapnya sebagai makian frustrasi. Tapi tidak, Yudi adalah tipe orang yang melihat peluang di balik setiap masalah. Bukankah nama yang aneh atau yang menggelitik telinga justru paling mudah diingat? Nama yang unik dan memancing tawa itu adalah magnet. Maka, lahirlah merek Es Gak Beres.

Kegagalan yang Menampar dan Hujatan Netizen

Setelah Ramadan usai, euforia Hari Raya membawa tantangan yang berbeda. Yudi memutuskan menjual es yang sama. Namun, di luar konteks takjil dan berbuka, hasilnya sungguh tragis.

Es yang ia jual tidak laku. Lebih parah lagi, karena dijual dari pagi hingga sore tanpa manajemen kualitas yang tepat, rasanya sudah berubah. Tidak enak. Reaksi pasar brutal. Kejadian ini viral di sosial media, tetapi bukan dalam artian positif. Yudi dihujat. Netizen ramai-ramai mencerca dan memaki kualitas yang menurun drastis.

Es Gak Beres yang kekinian diminati semua kalangan, termasuk kaum muda. (Sumber: Radio Idola Semarang)


Setelah merasakan manisnya sukses singkat di Ramadan, kini ia harus menelan pil pahit. Hujatan online itu menusuk langsung dan membuat mentalnya down. Bagi seorang pebisnis pemula, makian massal adalah hantu yang paling menakutkan.

Tapi Yudi tidak tenggelam. Ia memilih bangkit setelah menuntaskan "jatah gagal"-nya. "Gagal itu harus. Hanya orang yang berani mencoba yang punya jatah gagal," filosofi itu seperti menguatkannya.

Yudi merevisi total. Ia sadar, branding yang unik tidak cukup tanpa kualitas yang konsisten. Ia lari ke internet, ke YouTube, mencari ide, dan mencari resep. Menggali kreativitas dan inspirasi dari video.

Ia memutuskan untuk beralih dari sekadar jus buah tong menjadi minuman kekinian dengan varian rasa, seperti thai tea, green tea, dan kombinasi buah yang menarik, lalu dijual dengan harga yang ramah di kantong: lima ribuan.

Berawal dari gerobak Es Gak Beres, kini Yudi telah mengelola kafe dan resto. (Sumber: Anugerah Pewarta Astra)


Ini adalah momen kunci. Es Gak Beres yang tadinya "gak beres" karena kualitasnya, kini menjadi Es Gak Beres yang sangat beres dalam hal rasa dan inovasi.

Dari Kisaran ke Nusantara: Menjadi Waralaba (Franchise)

Keberhasilan Yudi menarik perhatian. Ternyata, resep kekinian dengan branding yang nakal itu disukai banyak orang dan momentumnya bergerak sangat cepat.

Yudi awalnya mungkin hanya berharap bisa menopang ekonomi keluarga. Tapi takdir berkata lain. Tiba-tiba, ia tak hanya mengurus gerobak. Ia harus mengurus ratusan orang yang ingin menjadi mitranya yang sekarang kita sebut franchise.

Dari satu gerobak di Asahan, Es Gak Beres menyebar ke Sumatra, Aceh, Riau, Pekanbaru, Medan, hingga merambah ke Kalimantan Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Jumlah gerainya? Mencapai angka fantastis, yaitu hampir 500 mitra cabang.

Omzet pun ikut melompat. Dari penjualan eceran di gerobak, kini Yudi bisa meraup omzet Rp 100 juta hingga Rp150 juta per bulan hanya dari penjualan bahan baku yang disalurkan ke semua mitranya. Gerobak yang dulu hanya impian kini menjelma menjadi pusat produksi bahan baku, kafe, dan resto yang dibangun pada Desember 2020 untuk mempertahankan dan mengembangkan merek yang kuat ini.

Inovasi Berulang: Resep Sukses Melawan Pembajak Rasa

Kebangkitan Es Gak Beres setelah dihujat di media sosial adalah bukti nyata bahwa bagi seorang pengusaha, kritik adalah bahan baku paling berharga. Yudi Efrinaldi tidak hanya mengganti resep, ia membangun sebuah sistem inovasi yang terus berjalan. Ia sadar bahwa dalam bisnis minuman kekinian (f&b), stagnasi adalah kematian.

Setelah sukses viral dengan harga lima ribuan, Es Gak Beres berkembang jauh melampaui konsep jus buah awal. Mereka memasuki arena minuman kekinian dengan fokus utama pada varian rasa yang unik dan kaya jeli.

Es Gak Beres selalu berinovasi agar tidak bisa ditiru kompetitor. (Sumber: Viva)

Jeli dan Varian Rasa yang Membuat Nagih

Inti dari inovasi Es Gak Beres adalah penggunaan jeli sebagai ciri khas. Jeli yang diracik khusus ini memberikan sensasi kunyah yang disukai konsumen muda dan menjadi signature yang sulit ditiru kompetitor, terutama yang bermain di harga terjangkau.

Varian produknya berkembang menjadi beberapa kategori utama:

  • Es Gak Beres Rasa Buah (dengan Jeli): Ini adalah lini terlaris yang fokus pada rasa buah-buahan tropis dengan topping jeli, seperti Mangga Jelly (yang sering menjadi Best Seller), Anggur Jelly, Durian Jelly, dan Sirsak Jelly. Inovasi di sini adalah memastikan rasa buah tetap otentik namun menyegarkan.
  • Minuman Kekinian Dasar (dengan Jeli): Produk yang masuk ke kategori ini mengikuti tren pasar, seperti Cokelat Jelly dan Bubble Gum Jelly.
  • Varian Cake Milkshake: Untuk memenuhi pasar yang lebih luas, Es Gak Beres turut meracik minuman berbasis milkshake dengan rasa kue yang populer seperti Blue Velvet, Red Velvet, Tiramisu, dan Taro. 
  • Lini Khusus Cheese: Beradaptasi dengan tren keju (cheese foam), mereka meluncurkan varian seperti Cheese Vanila, Cheese Oreo, dan Cheese Green Tea.

Beberapa varian Es Gak Beres dengan kemasan yang menarik. (Sumber: IG @esgakberes)


Kunci dari konsistensi rasa di 500 gerai lebih adalah susu kental manis (SKM) dengan Brand Khusus. Yudi menemukan bahwa resep racikannya tidak menggunakan gula tambahan sama sekali. Rasa manis datang dari SKM merek tertentu yang menurutnya memiliki aroma, rasa, dan kandungan gula yang pas di lidah dan memastikan setiap cup Es Gak Beres memiliki cita rasa yang sama, mulai dari Asahan hingga Jawa. Inilah benteng pertahanan Yudi melawan tiruan murahan, yakni kontrol ketat atas kualitas bahan baku utama yang disalurkan ke mitra.

Ekspansi Lini Bisnis: Dari Gerobak ke Cafe & Resto

Inovasi Yudi tidak berhenti pada cup minuman. Untuk memperkuat brand positioning yang sudah sangat dikenal dan menciptakan loyalitas pelanggan yang lebih dalam, Es Gak Beres melakukan ekspansi vertikal yang berani: mendirikan Es Gak Beres Cafe Resto dan bahkan minimarket.

Es Gak Beres ikut menjadi salah satu pendukung progam makan bergizi gratis/MBG. (Sumber: Indonesiana)


Es Gak Beres Cafe Resto dibangun pada Desember 2020 yang berfungsi ganda, yaitu pertama, pusat produksi dan R&D: tempat inovasi resep baru dan kontrol kualitas bahan baku dilakukan secara terpusat, dan kedua, penjangkaran merek: memberikan pengalaman premium kepada pelanggan dan membuktikan bahwa Es Gak Beres bukan hanya sekadar minuman pinggir jalan, tetapi merek yang matang dan mampu bersaing di segmen kafe.


Diversifikasi Menu Makanan: Begitu memasuki ranah kafe dan resto, menu Es Gak Beres tidak lagi hanya terbatas pada minuman dingin. Mereka mulai menawarkan hidangan berat dan ringan, menjadikannya destinasi kuliner lengkap, bukan hanya pelepas dahaga:


  • Makanan Utama Khas: Menu seperti Sop Daging/Ayam, Soto Ayam/Daging Medan, dan Miso menunjukkan akar lokal Yudi, sementara hidangan populer seperti Indomie Rebus/Goreng dan Mie Tiaw melengkapi pilihan. 
  • Kopi Khusus: Kafe ini juga menawarkan lini kopi premium (Coffe Original) seperti Coffe Latte, Americano, bahkan inovasi seperti Coffe Empon Empon dan Mazagran (kopi lemon). Ini menunjukkan kematangan Yudi dalam mengikuti tren F&B modern.

Langkah ini membuktikan bahwa Es Gak Beres menerapkan filosofi "grow mindset" secara praktis: dari krisis kualitas hingga perluasan pasar yang ambisius. Keberhasilan Es Gak Beres saat ini dengan ulasan Google Maps yang stabil di angka 4,3 bintang adalah hasil dari inovasi tanpa henti yang mengubah celetukan "Gak Beres" menjadi simbol konsistensi dan kreativitas.

Cobaan Pengusaha dan Growth Mindset

Jalan menuju ratusan cabang tidak pernah mulus. Semakin besar kapal, semakin besar pula ombak yang menerjang. Yudi menghadapi kesulitan klasik para pengusaha:


Es Gak Beres turut memberi dampak pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat. (Sumber: Medan Bisnis Daily)


  • Manajemen Waktu dan Stok Bahan Baku: Kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) membuat urusan stok dan logistik menjadi pekerjaan rumah yang tak berkesudahan.
  • Ditipu Karyawan Sendiri: Sebuah tantangan universal. Kepercayaan yang dikhianati oleh orang yang seharusnya membantu. Pukulan emosional yang tak terhindarkan.
  • Kelalaian Mitra (Franchise): Mitra yang curang, membeli bahan baku di luar standar yang telah ditetapkan, sehingga memengaruhi kualitas rasa. Ini adalah ancaman paling berbahaya, karena dapat mencemarkan nama baik merek Es Gak Beres secara keseluruhan.

Untuk menghadapi badai ini, Yudi harus menguatkan mentalnya. Ia menerapkan apa yang ia sebut grow mindset. Itu adalah keyakinan fundamental bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha dan kemauan untuk belajar. Dalam bisnis, grow mindset berarti: setiap masalah adalah ruang untuk perbaikan, bukan alasan untuk menyerah.

Ketika omzet sempat anjlok karena ia mencoba menaikkan harga dari lima ribuan, ia tidak mundur. Ia berinovasi: membuat paket bundling, menawarkan varian ukuran, dan diversifikasi produk melalui kafe dan resto. Ia tidak terjebak di harga mati, ia menciptakan nilai yang beragam.

Rezeki yang Dibereskan: Kedermawanan dan SATU Indonesia Awards

Kisah sukses Yudi Efrinaldi tidak berhenti di laporan keuangan dan ratusan gerai. Di mata Yudi, hasil dari kerja keras ini harus berguna bagi sesama. Ia ingin "membereskan" kesulitan orang lain, sebagaimana Es Gak Beres telah membereskan masalah finansialnya.


Selain bisnis, Es Gak Beres juga menjalankan program bantuan sosial. (Sumber: GNFI)


Yudi menjalankan program bantuan sosial yang terintegrasi dengan bisnisnya:

  • Ambulans Gratis: Es Gak Beres menjadi sponsor dan penyedia layanan ambulans gratis bagi masyarakat setempat—sebuah kontribusi vital di bidang kesehatan.
  • Jumat Berkah: Rutin memberikan bantuan sembako atau makanan gratis setiap Jumat.
  • Pelatihan UMKM: Secara aktif memberikan pelatihan kewirausahaan bagi siswa dan mahasiswa, khususnya di Kabupaten Asahan.

"Wirausaha itu bukan profesi yang memalukan," ia selalu menekankan. "Justru kita harus punya motivasi untuk menjalankannya." Ia ingin menularkan semangat ini, menciptakan 'Yudi-Yudi' lain yang berani memulai dari nol sehingga ikut memajukan perekonomian daerahnya.

Kegigihan dan dampaknya yang meluas ini menarik perhatian. Pada tahun 2021, Yudi Efrinaldi menerima apresiasi tertinggi: SATU Indonesia Awards (Astra) tahun 2021 di bidang kewirausahaan. Uniknya, ia didaftarkan oleh temannya yang ingin kisah Yudi menjadi inspirasi nasional. Di antara belasan ribu pendaftar, kisah Es Gak Beres dinilai sebagai bukti nyata bahwa kreativitas, ketekunan, dan jiwa sosial adalah kunci kesuksesan sejati.


(Sumber: Anugerah Pewarta Astra)


Dari gerobak kecil, dari label "Gak Beres," Yudi telah membangun sebuah kerajaan yang tidak hanya beres secara finansial, tetapi juga beres dalam hal manfaat sosial. Ulasan gerai Es Gak Beres di Google Maps kini mencapai sekitar 4,3 bintang adalah sebuah peningkatan kualitas yang jelas dan jauh dari hujatan di masa lalunya.

Kisah Yudi Efrinaldi, pemuda Asahan yang mengawali usahanya dari keterpaksaan ekonomi adalah cambuk semangat bagi siapa pun. Ini adalah bukti bahwa tidak ada hal yang mustahil jika kita mau menghabiskan "jatah gagal" kita. Es Gak Beres telah membereskan banyak hal: nasib Yudi, perekonomian mitranya, hingga kesulitan warga sekitar. Kita bisa melihat di setiap cup minuman kekinian itu tersimpan pelajaran: nama boleh Gak Beres, tapi semangat dan kualitas harus Sangat Beres.

 

Comments

Popular posts from this blog

Langkah Kevin Gani Bersama Garda Pangan; Menyelamatkan Makanan Sisa yang Menghidupkan Asa

Siang itu di Surabaya, aroma nasi hangat tengah bercampur dengan udara lembap yang keluar dari dapur-dapur restoran. Di balik kesibukan para juru masak yang menyiapkan hidangan untuk tamu, ada tumpukan piring yang belum sempat tersentuh, roti yang mulai mengeras, dan lauk yang sudah kehilangan segarnya. Sebagian besar akan berakhir di tempat sampah bersama sisa-sisa makanan lain menunggu nasib yang sama. Kevin Gani bersama Garda Pangan menyelamatkan makanan demi kehidupan. (Sumber: tempo.co) Namun bagi Kevin Gani, pemandangan seperti itu bukan hal yang bisa dibiarkan. Ia mengungkapkan bahwa sampah makanan itu bukan sekadar sisa, tetapi potret ketimpangan. Pria yang berkantor di Yayasan Garda Pangan, Surabaya Barat itu merasa miris. Dari caranya menatap makanan-makanan itu memperlihatkan satu hal: empati yang begitu dalam. Kevin adalah Ketua dan Koordinator Program Relawan Garda Pangan, sebuah yayasan yang sejak 2017 mengubah cara orang memandang makanan berlebih. Ia dan timnya mengum...

Langkah Elmi Sumarni Ismau Bersama GARAMIN Menggerakkan Dunia yang Lebih Inklusif

Pagi itu, angin laut Kupang bertiup lembut membawa aroma asin bercampur debu jalanan. Di sebuah ruangan sederhana yang dindingnya penuh coretan spidol warna-warni, Elmi Sumarni Ismau menatap layar laptopnya dengan serius. Di sampingnya, sebuah kursi roda terparkir dalam keheningan yang menjadi saksi dari perjalanan panjang dan telah membentuk dirinya menjadi sosok yang tangguh sekaligus lembut hati. Elmi Sumarni Ismau sosok difabel asal Kupang, NTT pendiri GARAMIN NTT. (Sumber: idntimes) Elmi, bukan hanya seorang perempuan penyandang disabilitas. Ia juga adalah penggerak, jembatan sekaligus suara bagi mereka, para difabel di Nusa Tenggara Timur, yang sering kali tak terdengar di tengah riuhnya pembangunan. Dari ruang kecil di Kupang itulah, Elmi bersama kawan-kawannya membangun sebuah gerakan bernama GARAMIN NTT sebuah Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas untuk Inklusi. Sebuah inisiatif yang lahir dari keyakinan sederhana tetapi kuat bahwa setiap manusia, dengan segala keter...