Pagi itu, angin laut Kupang bertiup lembut membawa aroma asin bercampur debu jalanan. Di sebuah ruangan sederhana yang dindingnya penuh coretan spidol warna-warni, Elmi Sumarni Ismau menatap layar laptopnya dengan serius. Di sampingnya, sebuah kursi roda terparkir dalam keheningan yang menjadi saksi dari perjalanan panjang dan telah membentuk dirinya menjadi sosok yang tangguh sekaligus lembut hati.
![]() |
| Elmi Sumarni Ismau sosok difabel asal Kupang, NTT pendiri GARAMIN NTT. (Sumber: idntimes) |
Elmi,
bukan hanya seorang perempuan penyandang disabilitas. Ia juga adalah penggerak,
jembatan sekaligus suara bagi mereka, para difabel di Nusa Tenggara Timur, yang
sering kali tak terdengar di tengah riuhnya pembangunan.
Dari
ruang kecil di Kupang itulah, Elmi bersama kawan-kawannya membangun sebuah
gerakan bernama GARAMIN NTT sebuah Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas
untuk Inklusi. Sebuah inisiatif yang lahir dari keyakinan sederhana tetapi kuat
bahwa setiap manusia, dengan segala keterbatasannya, berhak diakui dan diberi
kesempatan untuk berdaya.
Awal dari Sebuah Perjalanan, Mimpi yang Menjadi Gerakan
Sebelum
menjadi sosok yang dikenal luas dalam advokasi disabilitas, Elmi menjalani
hidup seperti kebanyakan anak muda lain di Kupang. Ia bersekolah, kuliah,
bercita-cita, dan menatap masa depan dengan penuh semangat. Namun, sebuah
peristiwa pada tahun 2010 mengubah segalanya. Kecelakaan lalu lintas membuat
kedua kakinya harus diamputasi.
![]() |
Kaki yang diamputasi membuka babak baru dalam hidup Elmi. (Sumber: idntimes) |
Perlahan-lahan,
ia belajar menerima keadaan. Ia mulai kembali menulis, membaca, dan bergabung
dalam berbagai kegiatan sosial. Salah satunya, Perkumpulan Tuna Daksa Kristiani
(PERSANI) NTT, tempat ia pertama kali mengenal isu disabilitas secara mendalam.
Di sana, Elmi melihat kenyataan yang menyentuh di mana masih banyak sahabat
difabel yang hidup di pinggiran, tanpa akses pendidikan, pekerjaan, bahkan
hak-hak dasar mereka.
Dari
pengalaman itu, sebuah niat mulai tumbuh dalam dirinya. Ia ingin membangun
ruang yang bisa menampung aspirasi para penyandang disabilitas. Ini adalah
sebuah ruang yang memberi mereka kesempatan untuk berdiri sejajar.
Pada
Oktober 2019, Elmi menulis sebuah impian itu di selembar kertas: “Saya ingin
membuat organisasi untuk membantu penyandang disabilitas.”
Tak
butuh waktu lama, niat itu menjelma nyata. Bersama lima sahabatnya yang
semuanya juga penyandang disabilitas, ia mendirikan GARAMIN NTT atau Gerakan Advokasi
Transformasi Disabilitas untuk Inklusi Nusa Tenggara Timur pada 14 Februari
2020. Nama “GARAMIN” dipilih bukan tanpa makna. Ia terinspirasi dari garam,
yaitu unsur kecil yang memberi rasa pada kehidupan. Seperti halnya garam, Elmi
ingin gerakannya bisa memberi makna pada masyarakat meskipun sederhana.
![]() |
Elmi bersama GARAMIN NTT bergerak untuk memberdayakan kaum difabel. (Sumber: idntimes) |
GARAMIN berdiri hanya sebulan sebelum pandemi COVID-19 melanda. Situasi itu justru menjadi ujian pertama bagi mereka. Di saat semua orang cemas menjaga jarak, Elmi dan timnya turun langsung ke lapangan untuk mendampingi para penyandang disabilitas agar bisa mengakses vaksinasi.
Bagi
sebagian besar masyarakat, vaksinasi mungkin hanya soal antre dan
menyingsingkan lengan. Namun bagi banyak difabel di NTT, itu adalah perjalanan
panjang. Ada yang tidak punya KTP, ada yang tak bisa datang ke lokasi vaksin
karena jalanan rusak, ada pula yang bahkan belum tahu apa itu COVID-19.
Elmi
dan kawan-kawan mengetuk pintu demi pintu, mendata, menulis ulang nama-nama
yang tak tercatat di sistem kependudukan. Mereka bekerja sama dengan pemerintah
daerah dan puskesmas untuk memastikan tidak ada satu pun difabel yang
tertinggal dari program vaksinasi.
Elmi
mengatakan bahwa kadang mereka jalan berjam-jam melewati jalan berlumpur hanya
untuk menjangkau satu orang. Tapi setiap senyum yang mereka lihat atau setiap
pelukan yang mereka terima, membuat semua lelah itu hilang.
Menghapus Stigma dan Membangun Kesetaraan
Lebih
dari sekadar kegiatan sosial, GARAMIN lahir sebagai gerakan untuk mengubah cara
pandang. Di banyak tempat, penyandang disabilitas masih dianggap beban atau sesuatu
yang “perlu dikasihani”, tetapi jarang diberi ruang untuk tumbuh. Elmi menolak
pandangan itu. Baginya, inklusi bukan belas kasihan, melainkan penghormatan
terhadap martabat manusia.
Oleh
karena itu, GARAMIN aktif mengadakan kampanye, diskusi, dan pelatihan di
berbagai desa di NTT. Mereka bicara langsung kepada masyarakat untuk
menjelaskan bahwa difabel juga bisa menjadi pengajar, pengusaha, bahkan
pemimpin, asal diberi kesempatan dan akses yang layak.
![]() |
GARAMIN mengadakan kampanye, diskusi, dan pelatihan agar kaum difabel memiliki kesempatan yang sama. (Sumber: viva) |
Selain advokasi, mereka juga mengadakan kelas menulis dan jurnalisme warga bagi penyandang disabilitas. Elmi menjelaskan bahwa tulisan itu penting karena lewat tulisan, mereka bisa bicara tanpa harus berteriak.
Upaya
itu perlahan berbuah. Kini, semakin banyak lembaga pemerintahan di NTT yang
melibatkan perwakilan difabel dalam forum-forum perencanaan daerah. Masyarakat
pun mulai terbuka. Di beberapa sekolah, anak-anak penyandang disabilitas sudah
mulai diterima tanpa diskriminasi.
Namun
jalan menuju masyarakat inklusif masih panjang. Elmi tahu betul, perubahan
besar membutuhkan kesabaran. Elmi mengungkapkan bahwa inklusi bukan proyek
setahun. Ia adalah cara berpikir dan itu butuh waktu.
![]() |
Elmi bercita-cita menghadirkan desa yang inklusi di masyarakat. (Sumber: gnfi) |
Ujian pun kembali hadir. Pada April 2021, badai Seroja menerjang Nusa Tenggara Timur. Rumah-rumah roboh, jalan terputus, dan banyak keluarga kehilangan tempat tinggal. Dalam situasi genting itu, GARAMIN NTT kembali turun ke lapangan.
Dengan
segala keterbatasan, Elmi dan para relawan menembus puing dan lumpur untuk
mencari para penyandang disabilitas yang terdampak. Elmi megenang peristiwa itu
dengan mengatakan bahwa mereka tidak mau para penyandang difabel itu dilupakan.
Sering kali bantuan tidak sampai kepada mereka karena tidak tercatat dalam data
korban.
Di
tengah kondisi serba darurat itu, Elmi menyaksikan satu hal yang tak akan ia
lupakan, yaitu semangat saling tolong yang melampaui batas fisik. Mereka saling
mengangkat kursi roda, saling memapah, dan waktu itu ia benar-benar merasa
bahwa inilah makna inklusi yang sebenarnya.
Menulis, Menginspirasi, dan Mewarnai Dunia untuk Menumbuhkan Akar Inklusi dari Desa
Selain
di lapangan, Elmi juga menemukan kekuatan lewat tulisan. Ia kerap menulis
tentang pengalaman dan pemikirannya seputar isu disabilitas. Salah satu
tulisannya membawanya menjadi penerima SATU Indonesia Awards 2021 kategori
kesehatan dari PT Astra Indonesia Tbk yang merupakan penghargaan bagi anak muda
inspiratif di Indonesia.
![]() |
Elmi dan GARAMIN membuka jalan bagi pengakuan akan keberadaan kaum difabel sehingga bisa lebih berdaya. (Sumber: idntimes) |
Ia mengaku sempat menulis 15 halaman untuk menceritakan perjuangannya, padahal panitia hanya meminta satu halaman. Sambil tertawa, Elmi mengatakan bahwa ia merangkum tulisan itu dengan berat hati. Namun, dari lembaran singkat itulah kisahnya menginspirasi banyak orang.
Penghargaan
itu bukan akhir, melainkan awal babak baru. Elmi mengatakan bahwa ia menulis
bukan untuk menang, tetapi ia menulis supaya orang tahu bahwa mereka ada, bahwa
mereka juga bisa.
Kini,
Elmi tengah menyiapkan mimpi besar berikutnya, yaitu Desa Inklusi. Ia ingin
memulai dari akar rumput, yaitu dari desa-desa di mana stigma masih kuat dan
akses masih minim. Ia ingin membangun sistem yang memungkinkan difabel hidup
mandiri dengan fasilitas publik yang ramah dan kesempatan kerja yang setara. Ia
mau memulainya dari bawah karena perubahan sejati itu lahir dari masyarakat,
bukan dari atas.
Bersama
timnya, Elmi rutin mendatangi desa-desa di sekitar Kupang. Mereka berdialog
dengan kepala desa, tokoh agama, dan guru sekolah dasar. Mereka menunjukkan
bahwa inklusi bukan hanya isu sosial, melainkan soal kemanusiaan.
Pelajaran dari Sebuah Kehilangan
Di
bawah langit Kupang yang berwarna jingga, Elmi sering duduk di teras rumahnya,
memandangi laut dari kejauhan. Di tangannya, sebuah catatan kecil berisi
rencana-rencana baru telah tertulis di sana: pelatihan kepemimpinan difabel,
kampanye media sosial, dan rencana Desa Inklusi.
![]() |
Elmi dan GARAMIN sering memberikan advokasi dan pendampingan bagi kaum difabel. (Sumber: Polres Kupang) |
Bagi Elmi, hidup adalah perjalanan untuk memberi arti. Ia mungkin tidak bisa lagi berlari seperti dulu, tapi dari kursi rodanya, Elmi justru telah melangkah lebih jauh yang melintasi batas fisik, menembus stigma, dan menyalakan harapan bagi banyak orang.
Bagi
Elmi, kehilangan kakinya dulu bukanlah akhir, melainkan pintu menuju kehidupan
yang lebih bermakna. Dari kursi rodanya, ia belajar tentang daya tahan, empati,
dan kekuatan untuk terus melangkah meski tak bisa berjalan.
“Kalau
saya dulu tidak mengalami kecelakaan itu, mungkin saya tidak akan sampai di
titik ini,” ungkap Elmi. “Saya tidak akan tahu rasanya berjuang bersama
orang-orang yang sering diabaikan.”
![]() |
Kaum difabel di NTT merasa gembira karena terbantu oleh program dari GARAMIN. (Sumber: kompas) |
Kini, ia menjadi inspirasi bagi banyak orang muda di NTT. Dalam setiap pelatihan, Elmi selalu menutup dengan kalimat yang sederhana, tetapi membekas: “Gunakan masa mudamu untuk berbuat. Kalau sesuatu yang kamu lakukan bisa membawa manfaat, lakukanlah dengan hati. Karena dari hal kecil yang kita lakukan dengan tulus, dunia bisa berubah.”








Comments
Post a Comment