Skip to main content

Misi Penyelamatan Otak: Mengalahkan Kortisol dengan Tawa dan Mencintai Diri

Selamat datang, wahai pejuang kehidupan! Pernahkah Anda merasa seperti memori Anda tiba-tiba hilang, persis seperti janji kampanye yang terlupakan? Atau Anda baru saja mencoba mengingat nama tetangga, tapi yang muncul malah lirik lagu dangdut tahun 90-an? 


Tenang, Anda tidak sendirian. Kita semua pernah mengalaminya, dan ternyata... pelakunya bukan murni faktor usia, melainkan sang hormon jahat, Kortisol!



​Sang Penjahat Super dari Kelenjar Adrenal

​Ya, Kortisol! Namanya terdengar keren, seperti nama penjahat super di komik, padahal fungsinya di saat darurat lumayan membantu, yaitu memicu respons "lari atau lawan" saat kita dikejar deadline, mertua, atau cicilan. 


Masalahnya, kita sering lupa mematikan mode darurat ini. Kita stres karena macet, stres karena tagihan, stres karena melihat mantan upload foto liburan di Bali (padahal dulu bilangnya Bali itu cuma nama menu masakan).


​Dan ketika stres ini jadi langganan premium di hidup kita, Kortisol pun berproduksi tanpa rem, bagaikan pabrik tanpa kontrol kualitas. Apa dampaknya? Menurut agen rahasia dari dunia sains, Kortisol yang berlebihan ini suka usil menekan bagian otak kita yang bernama Hipokampus. 


Hipokampus ini, kawan-kawan, adalah kantor pusat memori kita.


​Bayangkan Hipokampus adalah pustakawan tua yang sabar menjaga semua kenangan, mulai dari rumus matematika SMA hingga di mana Anda terakhir kali menaruh kunci motor. Tiba-tiba, datang Kortisol dengan bodyguard-nya, Stres, dan mulai menduduki kantornya. 


Si pustakawan pun panik, buku-buku memori berceceran, dan akhirnya—blaar!—sistem memori Anda error. Wajar jika kita jadi lupa mau ambil apa di dapur, atau lebih parah, lupa cara memasak nasi!


​Jika dibiarkan terus-menerus, jaringan saraf bisa rusak permanen. Ini bukan hanya masalah lupa meletakkan kacamata (padahal ada di atas kepala), tapi masalah serius yang bisa mengganggu fungsi otak secara keseluruhan. 


Intinya, stres berkepanjangan itu seperti minum kopi lima gelas sambil jungkir balik; hasilnya bukan produktif, tapi overdosis dan pusing tujuh keliling!


​Jurus Pamungkas: Tertawa Sampai Hipokampus Ngakak

Jadi, bagaimana cara melawan Kortisol si pengganggu? Jawabannya sederhana, lucu, dan seringkali gratis: Kelola Stres! Tapi mengelola stres bukan berarti duduk diam seperti patung dan berharap masalah hilang. Itu namanya menunda. 


Mengelola stres adalah tentang menjadi anti-mainstream dalam menghadapi kesulitan.


​Gagal? Ya sudah, coba lagi! Anggap saja kegagalan itu adalah trailer buruk untuk film kesuksesan Anda. Trailer-nya jelek, tapi film aslinya pasti box office. Atau, kalau kata orang bijak yang doyan makan: "Gagal hari ini? Besok coba lagi. Kalau gagal lagi, mungkin memang butuh lebih banyak energi, mari kita makan!"


​Dikecewakan orang? Biarkan saja! Biarkan mereka sibuk dengan drama mereka sendiri. Hidup ini sudah terlalu rumit untuk memikirkan kenapa dia read tapi tidak reply. Pikirkan saja: urusan membalas kejahatan itu biarlah menjadi proyek Tuhan—Dia punya jadwal tayang dan rating yang jauh lebih tinggi daripada sinetron kita. Tugas kita? Cukup bersyukur.


​Bersyukur itu seperti booster super untuk otak. Bersyukur saat senang? Biasa. Bersyukur saat duka? Nah, ini baru level master. Saat duka, bersyukurlah karena Anda masih punya kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan punya cerita epik untuk diceritakan ke cucu. 


"Dulu Kakek/Nenek pernah gagal 100 kali, nak! Tapi Kakek/Nenek bersyukur, karena kalau Kakek/Nenek berhasil di coba pertama, Kakek/Nenek tidak akan tahu rasanya gagal, dan itu kan membosankan!"


​Cinta Diri: Bukan Egois, Tapi Prioritas Utama

Inti dari semua ini adalah: Sayangi Diri Sendiri, Cintai Diri Sendiri. Ini bukan ajakan untuk menjadi egois, lho. Ini adalah ajakan untuk menjadi realistis. Anda tidak bisa menuangkan air dari teko kosong. Anda tidak bisa membantu orang lain jika otak Anda sudah hang karena Kortisol.


​Tuhan sudah memberi kita otak yang luar biasa, yang mampu beradaptasi dengan keadaan apa pun. Jaringan saraf kita itu ibarat kabel-kabel listrik, jika salah satu putus, otak punya kemampuan self-repair dan bisa membuat jalur baru. 


Otak kita adalah mesin paling canggih di alam semesta, jadi jangan biarkan Kortisol merusaknya hanya karena Anda terlalu baper atau terlalu keras pada diri sendiri.


​Tertawa, istirahat, makan makanan enak (bukan untuk menghilangkan stres, tapi untuk survival), dan katakan pada Kortisol: "Minggir! Hari ini jadwal Hipokampus mau refreshing!"


​Mari jaga pikiran kita, jaga otak kita, dan jadilah pahlawan bagi diri sendiri. Karena kalau kita baik-baik saja, dunia pun akan terasa lebih... ya, setidaknya lebih bisa ditertawakan!

Comments

Popular posts from this blog

Kisah Yudi Efrinaldi Bersama Es Gak Beres Memberdayakan Ekonomi Masyarakat

Di tengah hiruk pikuk jalanan Kisaran, Asahan, Sumatra Utara, seringkali kita hanya melihat sebuah gerobak sebagai titik singgah sesaat atau tempat kita menukar lembaran rupiah dengan pelepas dahaga. Tapi bagi Yudi Efrinaldi, gerobak adalah garis start . Sebuah rombong kecil tempat dia menyambut nasib baiknya, yang ironisnya, bermula dari sebuah label: Gak Beres. Dari gerobak sederhana, Es Gak Beres telah mengubah jalan hidup Yudi. (Sumber: Viva) Gak Beres bukan sembarang label. Itu adalah pengakuan jujur, atau mungkin juga makian, yang kini bertengger gagah sebagai merek dagang dengan hampir 500 cabang se-Indonesia. Ini adalah kisah tentang the power of kepepet . Kisah tentang seorang mantan pegawai honorer yang dulu dipaksa oleh keadaan finansial, sebuah desakan yang kerap disebut tekanan ekonomi untuk beranjak dari zona nyaman, menjemput rezeki di bawah terik matahari, dan membuktikan bahwa kegagalan hanyalah bumbu dalam resep kesuksesan. Gerobak Pertama dan Sebuah Celetukan Yud...

Langkah Kevin Gani Bersama Garda Pangan; Menyelamatkan Makanan Sisa yang Menghidupkan Asa

Siang itu di Surabaya, aroma nasi hangat tengah bercampur dengan udara lembap yang keluar dari dapur-dapur restoran. Di balik kesibukan para juru masak yang menyiapkan hidangan untuk tamu, ada tumpukan piring yang belum sempat tersentuh, roti yang mulai mengeras, dan lauk yang sudah kehilangan segarnya. Sebagian besar akan berakhir di tempat sampah bersama sisa-sisa makanan lain menunggu nasib yang sama. Kevin Gani bersama Garda Pangan menyelamatkan makanan demi kehidupan. (Sumber: tempo.co) Namun bagi Kevin Gani, pemandangan seperti itu bukan hal yang bisa dibiarkan. Ia mengungkapkan bahwa sampah makanan itu bukan sekadar sisa, tetapi potret ketimpangan. Pria yang berkantor di Yayasan Garda Pangan, Surabaya Barat itu merasa miris. Dari caranya menatap makanan-makanan itu memperlihatkan satu hal: empati yang begitu dalam. Kevin adalah Ketua dan Koordinator Program Relawan Garda Pangan, sebuah yayasan yang sejak 2017 mengubah cara orang memandang makanan berlebih. Ia dan timnya mengum...

Langkah Elmi Sumarni Ismau Bersama GARAMIN Menggerakkan Dunia yang Lebih Inklusif

Pagi itu, angin laut Kupang bertiup lembut membawa aroma asin bercampur debu jalanan. Di sebuah ruangan sederhana yang dindingnya penuh coretan spidol warna-warni, Elmi Sumarni Ismau menatap layar laptopnya dengan serius. Di sampingnya, sebuah kursi roda terparkir dalam keheningan yang menjadi saksi dari perjalanan panjang dan telah membentuk dirinya menjadi sosok yang tangguh sekaligus lembut hati. Elmi Sumarni Ismau sosok difabel asal Kupang, NTT pendiri GARAMIN NTT. (Sumber: idntimes) Elmi, bukan hanya seorang perempuan penyandang disabilitas. Ia juga adalah penggerak, jembatan sekaligus suara bagi mereka, para difabel di Nusa Tenggara Timur, yang sering kali tak terdengar di tengah riuhnya pembangunan. Dari ruang kecil di Kupang itulah, Elmi bersama kawan-kawannya membangun sebuah gerakan bernama GARAMIN NTT sebuah Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas untuk Inklusi. Sebuah inisiatif yang lahir dari keyakinan sederhana tetapi kuat bahwa setiap manusia, dengan segala keter...